

Mungkin inilah istilah yang tepat untuk tumbuhan yang namanya masih asing, yaitu LAJAGUA.
komuditas itu tumbuh liar di tepian hutan dan punggung bukit sehingga jarang dilirik orang, seseorang justru mengolah rimpang tumbuhan anggota family Zingeberaceat itu menjadi 600 kg minyak per bulan yang dinamakan minyak asiri, dengan harga jual Rp. 280.000 - Rp. 300.000 per kg, omsetnya minimal Rp. 168 juta sebulan.
mereka tidak menanam lajagua tersebut, tumbuhan itu tumbuh liar dihutan jati, bambu, dan belukar. mereka memanen dan selalu menyisakan sebagian tumbuhan untuk pemanenan berikutnya.
Lajagua hanya beberapa bahan baku minyak asiri, dibeberapa daerah muncul para penyuling yang menglah beragam komoditas baru, seperti bunga mawar, melati, dan sirih dan kulit batang kayu manis. rata-rata mereka ingin membuat sensasi baru dalam membuat minyak wangi, maklum daun sirih biasanyahanya digunakan untuk pembersih mulut saat seseorang menyirih.
Minyak asiri berpotensi besar dalam bisnis karena sekarang lagi tren-trennya orang kembali ke alam, minyak asiri selain bisa dijadikan minyak wangi, para ahli teknologi kimia pun mengatakan bahwa minyak tersebut dapat dijadikan obat. selain minyak asiri, minyak lain yang bisa dijadikan obat antara lain, sirih, berkhasiat sebagai anti septik, jahe, berkhasiat sebagai anti hipertensi.
Krisis ekonomi memang tengah melanda Amerika serikat, namun menurut para eksportir, krisis tidak mempengaruhi permintaan pasar dunia, ia mengatakan permintaan beberapa jenis minyak asiri justru meningkat karena minyak tersebut menjadi kebutuhan pokok para konsumen kelas atas.
Namun masalah yang dihadapi para penyuling tidak terlepas dari bahan baku, rata-rata penyuling kerepotan karena bahan baku yaitu tumbuhan lajagua sangat langka. selain kelangkaan bahan baku masalah kedua adalah mutu bahan baku itu sendiri.
(sumber : Trubus)
Subscribe

0 komentar:
Posting Komentar